(( Menu Halaman )) - (( Qur'an )) (( Hadits ))

Bid'ah



Bidโ€™ah menurut bahasa, diambil dari bidaโ€™ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.
ุจูŽุฏููŠุนู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู
โ€œAllah pencipta langit dan bumiโ€ [Al-Baqarah/2 : 117]
Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.
Juga firman Allah.
ู‚ูู„ู’ ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชู ุจูุฏู’ุนู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูุณูู„ู
โ€œKatakanlah : โ€˜Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasulโ€œ. [Al-Ahqaf/46 : 9].
Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Taโ€™ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.
Dan dikatakan juga : โ€œFulan mengada-adakan bidโ€™ahโ€œ, maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.
Dan perbuatan bidโ€™ah itu ada dua bagian :
1. Perbuatan bidโ€™ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.
2. Perbuatan bidโ€™ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda : โ€œBarangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)โ€œ. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : โ€œBarangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolakโ€œ.
MACAM-MACAM BIDโ€™AH
Bidโ€™ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :
1. Bidโ€™ah qauliyah โ€˜itiqadiyah : Bidโ€™ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Muโ€™tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.
2. Bidโ€™ah fil ibadah : Bidโ€™ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyariโ€™atkan oleh Allah : dan bidโ€™ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :
a. Bidโ€™ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syariโ€™at Allah Taโ€™ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyariโ€™atkan, shiyam yang tidak disyariโ€™atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.
b. Bidโ€™ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.
c. Bidโ€™ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyariโ€™atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjamaโ€™ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam
d. Bidโ€™ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disariโ€™atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syariโ€™at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Syaโ€™ban (tanggal 15 bulan Syaโ€™ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syariโ€™atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.
HUKUM BIDโ€™AH DALAM AD-DIEN
Segala bentuk bidโ€™ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam
ูˆูŽู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชู ุงู„ุฃูู…ููˆุฑู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ูƒูู„ูŽู‘ ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุฉู ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽู„ูŽุฉูŒ
โ€œJanganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bidโ€™ah, dan setiap bidโ€™ah adalah sesatโ€œ. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].
Dan sabda Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam
ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ุงู‹ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏูŒู‘
โ€œBarangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolakโ€œ.
Dan dalam riwayat lain disebutkan :
ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุฏูŽุซูŽ ููู‰ ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏูŒู‘
โ€œBarangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolakโ€œ.
Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) adalah bidโ€™ah, dan setiap bidโ€™ah adalah sesat dan tertolak.
Artinya bahwa bidโ€™ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.
Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bidโ€™ahnya, ada diantaranya yang menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdoโ€™a kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bidโ€™ah seperti bidโ€™ahnya perkataan-perkataan orang-orang yang melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Muโ€™tazilah. Ada juga bidโ€™ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdoโ€™a disisinya. Ada juga bidโ€™ah yang merupakan fasiq secara aqidah sebagaimana halnya bidโ€™ah Khawarij, Qadariyah dan Murjiโ€™ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah. Dan ada juga bidโ€™ah yang merupakan maksiat seperti bidโ€™ahnya orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dengan tujuan menghentikan syahwat jimaโ€™ (bersetubuh).
Catatan :
Orang yang membagi bidโ€™ah menjadi bidโ€™ah hasanah (baik) dan bidโ€™ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam : โ€œSesungguhnya setiap bentuk bidโ€™ah adalah sesatโ€œ.
Karena Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bidโ€™ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bidโ€™ah) mengatakan tidak setiap bidโ€™ah itu sesat, tapi ada bidโ€™ah yang baik !
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya โ€œSyarh Arbaโ€™inโ€ mengenai sabda Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam : โ€œSetiap bidโ€™ah adalah sesatโ€, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : โ€œBarangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolakโ€œ. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.
Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bidโ€™ah itu ada yang baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu โ€˜anhu pada shalat Tarawih : โ€œSebaik-baik bidโ€™ah adalah iniโ€, juga mereka berkata : โ€œSesungguhnya telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)โ€, yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qurโ€™an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannyaโ€.
Adapun jawaban terhadap mereka adalah : bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini ada rujukannya dalam syariโ€™at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu โ€˜anhu : โ€œSebaik-baik bidโ€™ah adalah iniโ€, maksudnya adalah bidโ€™ah menurut bahasa dan bukan bidโ€™ah menurut syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam syariat sebagai rujukannya jika dikatakan โ€œitu bidโ€™ahโ€ maksudnya adalah bidโ€™ah menurut arti bahasa bukan menurut syariโ€™at, karena bidโ€™ah menurut syariat itu tidak ada dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya.
Dan pengumpulan Al-Qurโ€™an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qurโ€™an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.
Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah shalat secara berjamaโ€™ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu โ€˜anhu menjadikan mereka satu jamaโ€™ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bidโ€™ah dalam Ad-Dien.
Begitu juga halnya penulisan hadits itu ada rujukannya dalam syariat. Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena ada permintaan kepada beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam secara umum adalah ditakutkan tercampur dengan penulisan Al-Qurโ€™an. Ketika Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qurโ€™an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang ; semoga Allah Taโ€™ala memberi balasan yang baik kepada mereka semua, karena mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam agar tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah perbuatan orang-orang yang selalu tidak bertanggung jawab.
[Disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara Tentang Siapa Yang harus Dicintai & Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo, hal 47-55, penerjemah Endang Saefuddin.]


Read more https://almanhaj.or.id/439-pengertian-bidah-macam-macam-bidah-dan-hukum-hukumnya.html


Banyak kaum muslimin yang masih meremehkan masalah bidโ€™ah. Hal itu bisa jadi karena minimnya pengetahuan mereka tentang dalil-dalil syarโ€™i. Padahal andaikan mereka mengetahui betapa banyak hadits Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam yang membicarakan dan mencela bidโ€™ah, mereka akan menyadari betapa Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam sangat sering membahasnya dan sangat mewanti-wanti umat beliau agar tidak terjerumus pada bidโ€™ah. Jadi, lisan yang mencela bidโ€™ah dan mewanti-wanti umat dari bidโ€™ah adalah lisan Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam sendiri.
Hadits 1
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,
ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุฏูŽุซูŽ ููู‰ ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏูŒู‘
โ€œBarangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolakโ€ (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Hadits 2Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,
ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ุงู‹ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏูŒู‘
โ€œBarangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolakโ€ (HR. Muslim no. 1718)
Hadits 3
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,
ุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุจูŽุนู’ุฏู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ ู‡ูุฏูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ูˆูŽุดูŽุฑูู‘ ุงู„ุฃูู…ููˆุฑู ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชูู‡ูŽุง ูˆูŽูƒูู„ูู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽู„ูŽุฉูŒ
โ€œAmma baโ€™du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bidโ€™ah, setiap bidโ€™ah adalah kesesatanโ€ (HR. Muslim no. 867)
Dalam riwayat An Nasaโ€™i,
ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู„ุง ู…ูุถูู„ูŽู‘ ู„ูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุถู’ู„ูู„ู’ ููŽู„ุง ู‡ูŽุงุฏููŠูŽ ู„ูŽู‡ู ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽุตูŽุฏูŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏู’ูŠู ู‡ูŽุฏู’ูŠู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŒ ูˆูŽุดูŽุฑูŽู‘ ุงู„ุฃูู…ููˆุฑู ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชูู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุฉู ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงู„ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุถูŽู„ุงู„ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู
โ€œBarangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bidโ€™ah, setiap bidโ€™ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di nerakaโ€ (HR. An Nasaโ€™i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dhaโ€™if Sunan An Nasaโ€™i)
Hadits 4
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุฃููˆุตููŠูƒูู…ู’ ุจูุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ุณูŽู‘ู…ู’ุนู ูˆูŽุงู„ุทูŽู‘ุงุนูŽุฉู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ุญูŽุจูŽุดููŠู‹ู‘ุง ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนูุดู’ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‰ ููŽุณูŽูŠูŽุฑูŽู‰ ุงุฎู’ุชูู„ุงูŽูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุณูู†ูŽู‘ุชูู‰ ูˆูŽุณูู†ูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ุฎูู„ูŽููŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูŽู‡ู’ุฏููŠูู‘ูŠู†ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุงุดูุฏููŠู†ูŽ ุชูŽู…ูŽุณูŽู‘ูƒููˆุง ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽุนูŽุถูู‘ูˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุจูุงู„ู†ูŽู‘ูˆูŽุงุฌูุฐู ูˆูŽุฅููŠูŽู‘ุงูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชู ุงู„ุฃูู…ููˆุฑู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ูƒูู„ูŽู‘ ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุฉู ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽู„ูŽุฉูŒ
โ€œAku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taโ€™at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafaโ€™ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bidโ€™ah dan setiap bidโ€™ah adalah kesesatanโ€ (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: โ€œhadits ini hasan shahihโ€)
Hadits 5
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุฅูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุญูŽุฌูŽุจูŽ ุงู„ุชูŽู‘ูˆู’ุจูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุตูŽุงุญูุจู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฏูŽุนู’ ุจูุฏู’ุนูŽุชูŽู‡ู
โ€œSungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bidโ€™ah sampai ia meninggalkan bidโ€™ahnyaโ€  (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)
Hadits 6
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,
ุฃูŽู†ูŽุง ููŽุฑูŽุทููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽูˆู’ุถู ุŒ ู„ูŽูŠูุฑู’ููŽุนูŽู†ูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‰ูŽู‘ ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽูŠู’ุชู ู„ุฃูู†ูŽุงูˆูู„ูŽู‡ูู…ู ุงุฎู’ุชูู„ูุฌููˆุง ุฏููˆู†ูู‰ ููŽุฃูŽู‚ููˆู„ู ุฃูŽู‰ู’ ุฑูŽุจูู‘ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‰ . ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ุงูŽ ุชูŽุฏู’ุฑูู‰ ู…ูŽุง ุฃูŽุญู’ุฏูŽุซููˆุง ุจูŽุนู’ุฏูŽูƒูŽ
โ€œAku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, โ€˜Wahai Rabbku, ini adalah umatkuโ€™. Allah berfirman, โ€˜Engkau tidak tahu (bidโ€™ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmuโ€™ โ€œ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).
Dalam riwayat lain dikatakan,
ุฅูู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูู‘ู‰ . ููŽูŠูู‚ูŽุงู„ู ุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ู„ุงูŽ ุชูŽุฏู’ุฑูู‰ ู…ูŽุง ุจูŽุฏูŽู‘ู„ููˆุง ุจูŽุนู’ุฏูŽูƒูŽ ููŽุฃูŽู‚ููˆู„ู ุณูุญู’ู‚ู‹ุง ุณูุญู’ู‚ู‹ุง ู„ูู…ูŽู†ู’ ุจูŽุฏูŽู‘ู„ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูู‰
โ€œ(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, โ€˜Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmuโ€. Kemudian Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengatakan, โ€œCelaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahkuโ€(HR. Bukhari no. 7050).
Alโ€™Aini ketika menjelaskan hadits ini beliau berkata: โ€œHadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu tidak termasuk jamaโ€™ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bidโ€™ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang-orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq. Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan hadits iniโ€ (Umdatul Qari, 6/10)
Hadits 7
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุงู†ูŽู‘ู‡ู ุณูŽูŠูŽู„ููŠ ุฃูŽู…ู’ุฑูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ูŠูุทู’ููุฆููˆู†ูŽ ุงู„ุณูู‘ู†ูŽู‘ุฉูŽ ุŒ ูˆูŽูŠูุญู’ุฏูุซููˆู†ูŽ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู‹ ุŒ ูˆูŽูŠูุคูŽุฎูู‘ุฑููˆู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽูˆูŽุงู‚ููŠุชูู‡ูŽุง โ€ ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู : ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุŒ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุจููŠ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุชูู‡ูู…ู’ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : โ€ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูŠูŽุง ุงุจู’ู†ูŽ ุฃูู…ูู‘ ุนูŽุจู’ุฏู ุทูŽุงุนูŽุฉูŒ ู„ูู…ูŽู†ู’ ุนูŽุตูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ โ€ ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽู‡ูŽุง ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุงุชู
โ€œSungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bidโ€™ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnyaโ€™. Ibnu Masโ€™ud lalu bertanya: โ€˜apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?โ€™. Nabi bersabda: โ€˜Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah'โ€. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2864)
Hadits 8
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ูŠูŽุง ุณูู†ูŽู‘ุฉู‹ ู…ูู†ู’ ุณูู†ูŽู‘ุชููŠ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูู…ููŠุชูŽุชู’ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ููŽุฅูู†ูŽู‘ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฌู’ุฑู ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูุฌููˆุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู ุงุจู’ุชูŽุฏูŽุนูŽ ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŽ ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉู ู„ูŽุง ูŠูŽุฑู’ุถูŽุงู‡ูŽุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุขุซูŽุงู…ู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุฒูŽุงุฑู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง
โ€œBarangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bidโ€™ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpunโ€ (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: โ€œHadits ini hasanโ€)
Hadits 9
Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, ia berkata:
ูŠุง ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ! ุฅู†ุง ูƒู†ุง ุจุดุฑูŒ . ูุฌุงุก ุงู„ู„ู‡ู ุจุฎูŠุฑู . ูู†ุญู† ููŠู‡ . ูู‡ู„ ู…ู† ูˆุฑุงุกู ู‡ุฐุง ุงู„ุฎูŠุฑู ุดุฑูŒู‘ ุŸ ู‚ุงู„ ( ู†ุนู… ) ู‚ู„ุชู : ู‡ู„ ู…ู† ูˆุฑุงุกู ุฐู„ูƒ ุงู„ุดุฑูู‘ ุฎูŠุฑูŒ ุŸ ู‚ุงู„ ( ู†ุนู… ) ู‚ู„ุชู : ูู‡ู„ ู…ู† ูˆุฑุงุกู ุฐู„ูƒ ุงู„ุฎูŠุฑู ุดุฑูŒู‘ ุŸ ู‚ุงู„ ( ู†ุนู… ) ู‚ู„ุชู : ูƒูŠู ุŸ ู‚ุงู„ ( ูŠูƒูˆู† ุจุนุฏูŠ ุฃุฆู…ุฉูŒ ู„ุง ูŠู‡ุชุฏูˆู† ุจู‡ุฏุงูŠูŽ ุŒ ูˆู„ุง ูŠุณุชู†ูู‘ูˆู† ุจุณูู†ูŽู‘ุชูŠ . ูˆุณูŠู‚ูˆู… ููŠู‡ู… ุฑุฌุงู„ูŒ ู‚ู„ูˆุจูู‡ู… ู‚ู„ูˆุจู ุงู„ุดูŠุงุทูŠู†ู ููŠ ุฌูุซู…ุงู†ู ุฅู†ุณู ) ู‚ุงู„ ู‚ู„ุชู : ูƒูŠู ุฃุตู†ุนู ุŸ ูŠุง ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ! ุฅู† ุฃุฏุฑูƒุช ูุฐู„ูƒ ุŸ ู‚ุงู„ ( ุชุณู…ุนู ูˆุชุทูŠุน ู„ู„ุฃู…ูŠุฑู . ูˆุฅู† ุถูŽุฑูŽุจ ุธู‡ุฑูŽูƒ . ูˆุฃุฎุฐ ู…ุงู„ูŽูƒ . ูุงุณู…ุนู’ ูˆุฃุทุนู’ )
โ€œWahai Rasulullah, dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam), dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang kejelekan? Nabi bersabda: โ€˜Yaโ€™. Apakah setelah itu akan datang kebaikan? Nabi bersabda: โ€˜Yaโ€™. Apakah setelah itu akan datang kejelekan? Nabi bersabda: โ€˜Yaโ€™. Aku bertanya: โ€˜Apa itu?โ€™. Nabi bersabda: โ€˜akan datang para pemimpin yang tidak berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad manusiaโ€™. Aku bertanya: โ€˜Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika mendapati mereka?โ€™. Nabi bersabda: โ€˜Tetaplah mendengar dan taat kepada penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah mendengar dan taatโ€™โ€ (HR. Muslim no.1847)
Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan kebidโ€™ahan.
Hadits 10
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูุบูŽูŠูู‘ุฑู ุณูู†ูŽู‘ุชููŠ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู…ูู†ู’ ุจูŽู†ููŠ ุฃูู…ูŽูŠูŽู‘ุฉูŽ
โ€œOrang yang akan pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyahโ€ (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Al Awaโ€™il, no.61, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1749)
Dalam hadits ini Nabi mengabarkan bahwa akan ada orang yang mengubah-ubah sunnah beliau. Sunnah Nabi yang diubah-ubah ini adalah kebidโ€™ahan.
Hadits 11
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุฌูŽุงุกูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ุฑูŽู‡ู’ุทู ุฅูู„ูŽู‰ ุจููŠููˆุชู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ูŽ ุนูŽู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŒ ููŽู„ูŽู…ูŽู‘ุง ุฃูุฎู’ุจูุฑููˆุง ูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุชูŽู‚ูŽุงู„ูู‘ูˆู‡ูŽุง ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง : ูˆูŽุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ู†ูŽุญู’ู†ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุชูŽุฃูŽุฎูŽู‘ุฑูŽ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ู’ : ุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุฃูŽู†ูŽุง ุŒ ููŽุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูุตูŽู„ูู‘ูŠ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ูŽ ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุขุฎูŽุฑู : ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุตููˆู…ู ุงู„ุฏูŽู‘ู‡ู’ุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃููู’ุทูุฑู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุขุฎูŽุฑู : ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุนู’ุชูŽุฒูู„ู ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกูŽ ููŽู„ูŽุง ุฃูŽุชูŽุฒูŽูˆูŽู‘ุฌู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ุŒ ููŽุฌูŽุงุกูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : โ€ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู‚ูู„ู’ุชูู…ู’ ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุŒ ุฃูŽู…ูŽุง ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูู‘ูŠ ู„ูŽุฃูŽุฎู’ุดูŽุงูƒูู…ู’ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฃูŽุชู’ู‚ูŽุงูƒูู…ู’ ู„ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุตููˆู…ู ูˆูŽุฃููู’ุทูุฑู ุŒ ูˆูŽุฃูุตูŽู„ูู‘ูŠ ูˆูŽุฃูŽุฑู’ู‚ูุฏู ุŒ ูˆูŽุฃูŽุชูŽุฒูŽูˆูŽู‘ุฌู ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกูŽ ุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุบูุจูŽ ุนูŽู†ู’ ุณูู†ูŽู‘ุชููŠ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ูู‘ูŠ
โ€œAda tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam. ูSetelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, โ€œIbadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?โ€ Salah seorang dari mereka berkata, โ€œSungguh, aku akan shalat malam selama-lamanyaโ€ (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, โ€œKalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbukaโ€. Dan yang lain lagi berkata, โ€œAku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanyaโ€. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: โ€œKalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golongankuโ€ (HR. Bukhari no.5063)
Dalam hadits di atas, ketiga orang tersebut berniat melakukan kebidโ€™ahan, karena ketiganya tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Yaitu puasa setahun penuh, shalat semalam suntuk setiap hari, kedua hal ini adalah bentuk ibadah yang bidโ€™ah. Dan berkeyakinan bahwa dengan tidak menikah selamanya itu bisa mendatangkan pahala dan keutamaan adalah keyakinan yang bidโ€™ah. Oleh karena itu Nabi bersabda โ€œBarangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golongankuโ€œ.
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela bidโ€™ah, namun apa yang kami nukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bidโ€™ah.
Wallahuโ€™alam.


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/11456-hadits-hadits-tentang-bidah.html
Share:

Related Posts:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

toko islam

toko islam

Popular Posts

Umroh Murah Ibadah Berkah

  UMRAH PASTI MAMPU!!!!! ๐Ÿ•‹๐Ÿ•‹ Di Tanur Ada program keren namanya Easy Umrah apa aja sih easy nya klo anda mau umrah DI TANUR cekidottt ๐Ÿ‘‡ 1....